DeeReS "Merindukan Epistemologi Islam Madzhab Conge" :: Kunjungan Pengelola Jurnal UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta ke Rumah Jurnal STAIN Kudus :: Studi Banding Pengelola Jurnal UIN Sunan Gunung Djati Bandung di Rumah Jurnal STAIN Kudus :: KUNJUNGAN PENGELOLA JURNAL LP2M UIN RIAU KE RUMAH JURNAL STAIN KUDUS :: MENAG RESMIKAN KELAS INTERNASIONAL DAN LIPI CORNER STAIN KUDUS ::

DeeReS "Merindukan Epistemologi Islam Madzhab Conge"

Diposting oleh : UPPI - STAIN KUDUS
Kamis, 11 Januari 2018 - 12:10:28 WIB


Review DeeReS, 10 Januari 2018

 

Persoalan kedaulatan keilmuan sedang "digugat" oleh komunitas dosen dalam Diskusi Rabu Sore (DeeReS) STAIN Kudus. Demikian salah satu poin diskusi yang berkembang dalam topik: "Dekolonisasi Metodologi di Era Poskolonial", dengan narasumber Irzum Farihah dan Nur Said.

DeeReS merupakan sarana diskusi mingguan para dosen di lingkungan STAIN Kudus dalam merespon isu-isu aktual terkait keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Diselenggarakan setiap rabu jam 14.00 - 16.00 WIB di ruang pertemuan Unit Penerbitan dan Publikasi Ilmiah (UPPI) STAIN Kudus. Bersifat terbuka, karenanya bisa diikuti oleh siapapun yang ingin olah rasa dan olah pikir sebagai landasan untuk transformasi sosial mengikuti jejak para cendekia.

Pada edisi rabu perdana di tahun 2018, paparan pertama dimulai dari Said yang memberikan konteks lokal dan global arkeologi keilmuan yang berkembang akhir-akhir ini. Konteks diskusi ini diawali dengan menyeruaknya dominasi pengindex global yang bernama scopus yang menjadi polemik akhir-akhir ini. Fenomena scopus adalah bagian dari salah satu saja fenomena dominasi kedaulatan Barat atas pengetahuan. Kalau dirunut lebih jeli dunia teks dalam sejarah, ekonomi, budaya, pendidikan bahkan pangan sekalipun tak lepas dari produk citrawi yang dibuat oleh dunia media Barat.

Dalam sejarah, betapa citra Islam dsn termasuk para wali dalam banyak kasus dikesankan sebagai pribadi yang saling bersebrangan, penuh persaingan dan terkadang terkesan haus darah. Padahal para wali adalah kepanjangan tangan Rasul yang membawa amanah penebar Islam yang ramah.

Memang, kita patut mengapresiasi para peneliti Barat yang telah mengkaji khazanah keilmuan nusantara, tapi kita perlu membaca ulang secara kritis, tidak sekedar sebagai konsumen yang hanya rajin mengutip saja, tetap bagaimana suatu saat kita melahirkan karya ensiklopedis yang menjadi rujukan ilmuan dunia.

Sementara, pada aspek lain standarisasi pendidikan mengedepankan aspek angka (grade) daripada nilai (values). Dalam hal pangan, tepung terigu dengan produk mie instannya lebih diunggulkan sementara tepung ketela khas nusantara tak diminati sebagai dampak iklan melalui media yang massive.

Semua itu menurut Irzum sebagai narasumber kedua- meminjam istilah Foucault- tak lepas dari relasi kuasa antara power dan knowledge melalui bujuk rayu kebijakan yang lembut sehingga tak terasa dipaksakan. Lebih jauh Said menilai pola relasi dominatif seperti itu adalah bagian dari kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik terjadi ketika ada bagian dari kuasa miliknya diambil tetapi yang memiliki kuasa tak terasa dirampas karena kecanggihan dalam memanfaatkan dominasi pengetahuan secara kultural dan struktural.

Kendatipun demikian Tador, salah satu peserta dosen muda merasa penting melibatkan dimensi kultural dan struktural dalam membangun kedaulatan ilmu. Maka dibutuhkan Epistemologi baru yang berbasis maslahah bukan menebar musibah yang berbau penindasan otoritas keilmuan.

Arab digarap, Barat diruwat

Dalam suasana seperti itu peserta diskusi yang hadir kurang lebih 10-15 orang (silih berganti) semakin gregetan, karena sesungguhnya diri kita sebagai ilmuan juga memiliki kedaulatan untuk memilih, memilah dan mereproduksi sendiri.

Pengetahuan yang distingtif.

Demikian juga nusantara sebagai sebuah geososial juga memiliki corak metodologis manakala mampu untuk merumuskan. Munculnya kajian etnometodologi adalah bagian dari kesadaran poskolonial bahwa sudah saatnya STAIN Kudus sebagai institusi yang turut meneguhkan lahirnya "Epistemologi Islam Madzhab Conge".

Spirit ini semakin memuncak ketika Ulfa salah satu peserta dosen dengan mengutip Gus Muwafiq, Kyai nyentrik ahli sejarah, mengatakan bahwa dalam hal metodologi cukuplah belajar dengan Walisongo. Hakekat ilmu adalah untuk perubahan atau transformasi sosial. Para wali secara nyata telah berhasil mengantarkan transformasi sosial dari struktur sosial yang hirarkis berkasta menuju struktur sosial egaliter berbasis tauhid dengan berpedoman pada prinsip "Arab digarap, Jowo digowo, Barat diruwat". Prinsip ini juga bagian dari ilmuhal para wali.

Teknologi Kesehatan Warisan Sunan

Aflah salah satu peserta dosen juga memperkuat data kearifan ilmuhal juga bisa ditemukan dalam warisan Sunan Kudus dalam mata air kehidupan (banyu penguripan). Tidak banyak yang tahu bahwa Sunan Kudus juga ahli teknologi kesehatan yang kondang hingga Palestina. Menurut suatu sumber, air bawah menara memiliki kandungan istimewa yang secara kimiawi bermanfaat bagi pengobatan berbagai jenis penyakit. Ini menjadi PR bagi para saintis santri ke depan. 

Adel,dosen peserta diskusi yang lain dengan mengutip Ibnu Khaldun juga sefaham bahwa berbagai data-data yang terbaca di atas tak lepas dari konsekuensi sosio-sufistik yang kalau digali akan melahirkan identitas keilmuan tasawuf Islam Jawa.

Maka Aat menegaskan tak sepatutnya dalam otoritas keilmuan kita terlalu mengikuti kehendak Barat. Aat prihatin dengan pengalaman salah seorang cendekia Indonesia yang ingin mengangkat disertasinya tentang sejarah intelektual Kyai Madja, guru spiritual Pangeran Diponegoro tapi tidak disetujui pembimbingnya yang tak lain ilmuan dari Barat lalu akhirnya mengangkat pemikir dari outsider. Sesungguhnya di Jawa kaya data tinggal bagaimana menemukan alat untuk menggalinya. Inilah yang membuat peserta diskusi semakin tumbuh rasa ingin tahu (sense of curiosity) sehingga penasaran kajian berikutnya.

Normalisasi Abnormalitas

Ketika dalam isu scopus telah membawa kedaulatan ilmu terancam di negeri yang berdaulat seperti Indonesia, menurut Nuskhan kita bisa melakukan counter culture publikasi yang melawan mainstream, sebagaimana dalam media "Arsip Indonesia". Tulisan-tulisan yang nampaknya remeh asal dikasih abstrak dalam bahasa global, juga akan menemukan ceruk pasar gagasan yang semakin kuat asal didukung dengan data dan metode yang jelas.

Akhirnya, kita jadi sadar bahwa nusantara ini kaya data tapi miskin metodologi. Tugas kita adalah memperkuat body of knowledge agar melahir disiplin keilmuan yang mapan. Maka pertemuan DeeReS ke depan akan terus berjihad hingga menemukan Epistemologi Islam khas Walisongo, mengingat pa yang disampaikan para wali adalah "ilmuhal" (ilmu aplikasi yang relevan pada zamannya) yang sudah terbukti dan teruji. Tugas kita memformulasikan, mengembangkan dan mengkontekstualisasikan.

Alhamdulillah pada closing statement akhirnya menemukan topik berikutnya yang relevan: "Epistemologi Cokot Boyo Warisan Walisongo" yang akan dipaparkan Ulfa Masamah, rabu depan. DeeReS InsyaAllah tetap setia dan Istiqomah, karena Kudus siap menjadi bagian dari destinasi Study islam Dunia. Sampai ketemu di next DeeReS, InsyaAllah...   




Pengumuman

>> Lihat Semua Pengumuman

Agenda

RAPAT KOORDINASI TIM PEMBUATAN SISTEM REPOSITORY
Tgl: 9-9-2016 s/d 9-9-2016
Jam: 15.00-selesai
Rapat Koordinasi dan Evaluasi Seluruh Jurnal
Tgl: 19-8-2016 s/d 19-8-2016
Jam: 15.30- Selesai
Klinik Jurnal Libraria
Tgl: 18-8-2016 s/d 18-8-2016
Jam: 13.00- selesai

>> Lihat Semua Agenda

Download

Video Youtube